Rabu, 20 April 2016

pengertian, metode, teori sosiologi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENGANTAR
Seorang awam yang untuk pertama kali mempelajari Sosiologi sesungguhnya secara tidak sadar telah mengetahui sedikit tentang sosiologi. Selama hidupnya dia telah menjadi anggota masyarakat dan sudah mempunyai pengalaman dalam hubungan sosial dan hubungan antar manusia. Sejak lahir didunia, dia sudah berhubungan dengan orang tuanya, misalnya dan semakin meningkat usianya, bertambah luas pulalah pergaulannya dengan manusia lain didalam masyarakat. Dia juga menyadari bahwa kebudayaan dan peradaban dewasa ini merupakan hasil perkembangan masa – masa yang silam. Secara sepintas lalu dia pun mengetahui bahwa di dalam berbagai hal dia mempunyai persamaan dengan orang lain, sedangkan dalam hal lain dia mempunyai sifat – sifat yang khas berlaku bagi diri sendiri sehingga berbeda dengan orang lain. Semuanya merupakan pengetahuan yang bersifat sosiologis oleh karena itu sertanya dia di dalam hubungan – hubungan sosial, dalam membentuk kebudayaan masyarakatnya dan kesadaran akan adanya persamaan dan perbedaan dengan orang lain, semua itu memberikan gambaran tentang obyek yang dipelajarinya yaiu sosiologi.
            Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda, walau telah mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia mengenali kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian.


B.     ILMU PENGETAHUAN  DAN SOSIOLOGI
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan pengguanaan kekuatan pemikiran, pengetahuan yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis. Tujuan ilmu pengetahuan adalah lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai. Perlu dicatat bahwa dari sudut penerapannya, ilmu pengetahuan dipecah menjadi dua bagian yaitu ilmu pengetahuan murni adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak hanya untuk mempertinggi mutunya, tanpa menggunakannya dalam masyarakat. Ilmu pengetahuan terapan adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat dengan maksud membantu kehidupan masyarakat. Tujuan dari sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam–dalamnya tentang masyarakat, dan bukan untuk mempergunakan pengetahuan tersebut terhadap masyarakat.

C.      GAMBARAN RINGKAS TENTANG SEJARAH TEORI – TEORI SOSIOLOGI
Suatu teori pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara – cara tertentu. Fakta tesebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Oleh sebab itu dalam bentuknya, yang paling sederhana suatu teori merupakan hubungan antara dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenarannya.
Sosiologi merupakan cabang ilmu filsafat yang di kembangkan oleh Auguste Comte dari Perancis di pertengahan abad ke-18. Untuk menemukan sesuatu sebelum sampai pada taraf penggunaan metode penelitian ilmiah, manusia menggunakan berbagai cara yang bersifat spekulatif, untung-untungan, secara kebetulan, mendasarkan pengalaman, dan sebagaiannya. Contoh penemuan secara kebetulan adalah penemuan penisilin oleh AlexanderFleming (Icons of the Century Giorgio Taborelli, 1990).
Secara umum, di kenal adanya 4 kelompok ilmu pengetahuan ditinjau dari objeknya, yaitu sebagai berikut:
1.    Ilmu matematika, yang terdiri dari aljabar, aritmatika, stereometri, statistik, geometri, dan kalkulus.
2.    Ilmu pengetahuan alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam, baik yang hayati (seperti biologi) maupun yang tidak hayati ( seperti fisika dan kimia).
3.    Kelompok ilmu sosial yang menyoroti perilaku manusia, seperti ilmu politik, ekonomi, sejarah, tata negara, psikologi, komunikasi, hukum, antropologi, sosiologi, geografi, dan arkeologi.
4.    Kelompok ilmu budaya (humanioira) yang terdiri dari ilmu bahasa, filsafat, agama, dan seni.
Menurut sifatnya, ilmu pengetahuan dapat dibagi dua, yaitu sebagai berikut:
1.    Ilmu eksakta atau bisa di sebut ilmu pasti. Misalnya, matematika dan IPA.
2.    Ilmu non eksakta atau bisa di sebut ilmu sosial. Misalnya, IPS, ilmu budaya,serta ilmu bahasa. Walaupun demikian kadang-kadang dalam ilmu noneksakta juga digunakan rumus ilmu pasti, misalnya dalam ekonomi (akuntansi), psikologi, dan sosiologi (sosiometri).
Dari sudut penerapannya, ilmu pengetahuan dapat dibedakan sebagai berikut:
1.    Ilmu pengetahuan murni (pure science), yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu secara abstrak untuk mempertinggi mutunya, tanpa menggunakannya dalam masyarakat. Sumber ilmu ini yaitu referensi buku.
2.    Ilmu pengetahuan terapan (applied science), yaitu ilmu pengetahuanyang bertujuan untuk mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat dengan maksud membantu kehidupan masyarakat.
Contoh Ilmu Murni dan Ilmu terapan:

D.      KONSEP DASAR SOSIOLOGI
1.     Konsep dan Definisi Sosiologi
Secara etimologi, sosiologi berasal dari kata socious dan logos.Socious (bahasa latin) artinya teman, dan logos  (bahasa yunani) yang berarti kata, perkataan atau pembicaraan. Secara harfiah, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat.
Beberapa definsi mengenai sosiologi, di antaranya sebagai berikut:
a.         Aguste Comte berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang terutama mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Artinya, sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga, dan peradaban.
b.        Pitirim A. Sorokin mengemukakan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
1)      Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara gejala  sosial dengan gejala nonsosial,
2)      Ciri-ciri umum dari semua jenis gejala atau fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat,
3)      Hubungan maupun pengaruh timbal balik antara berbagai gejala sosial.
c.         J.A.A van Doorn dan C.J. Lammars mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
d.        William f. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff mengemukakan bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial, dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
e.         Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam kelompok.
f.         Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial.
2.     Sifat Hakikat Sosiologi
Sifat-sifat hakikatnya sebagai berikut:
a.       Sosiologi termasuk rumpun ilmu sosial
b.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang kategoris
c.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science)
d.      Sosilogi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak
e.       Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.
f.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang rasional
g.      Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan umum

3.     Ciri-Ciri Utama Sosiologi
Sebagai ilmu sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Sosiologi bersifat empiris karena didasarkan pada pengamatan (observasi).
b.      Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi selalu berusaha untuk  menyusun kesimpulan dari hasil-hasil observasi.
c.       Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori sosiologi di bentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada sebelumnya.
d.      Sosiologi bersifat nonetis, artinya sosiologi tidak mempersoalkan baik-buruknya fakta.

E.       METODE – METODE DALAM SOSIOLOGI
Dalam hal ini sosiologi memiliki cara kerja atau metode yang digunakan oleh ilmu – ilmu pengetahuan , yakni metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran – ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata di dalam masyarakat. Sedangkan metode kuantitatif mengutamakan bahan – bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks, tabel, dan formula-formula yang semuanya itu sedikit banyaknya mempergunakan ilmu pasti atau matematika.
Metode – metode tersebut diatas bersifat saling melengkapi dan para ahli sosiologi seringkali menggunakan lebih dari satu metode untuk menyelidiki obyeknya. Kecuali metode-metode tersebut , masing-masing ilmu pengetahuan dan juga sosiologi mempunyai perlengkapan alat-alatnya sendiri yaitu alat-alat yang disebut konsep untuk menganalisis masalah-masalah yang terdapat dalam lapangan khususnya untuk sosiologi yaitu masyarakat.
BAB II
PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL
Pengetahuan tentang proses - proses sosial memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengertian mengenai segi yang dinamis dari masyarakat atau gerak masyarakat. Dahulu banyak sarjana sosiologi yang menyamakan perubahan sosial dengan proses sosial, karena ingin melepaskan diri dari titik berat pandangan para sarjana sosiologi klasik yang lebih menitikberatkan pada struktur daripada masyarakat.
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karenanya tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial.
Interaksi sosial antara kelompok – kelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut sebagai kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota – anggotanya. Proses simpati sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya. Inilah perbedaan utamanya dengan identifikasi yang didorong oleh keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kelebihan – kelebihan atau kemampuan – kemampuan tertentu yang patut dicontoh. Proses simpati akan dapat berkembang di dalam suatu keadaan di mana faktor saling mengerti terjamin. Adapun bentuk – bentuk dalam interaksi sosial di antaranya, dapat berupa kerja sama, persaingan dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian. Proses interaksi yang pokok adalah :
1.      Proses – proses yang Asosiatif
a.       Kerja sama
Bentuk dan pola – pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok manusia. kebiasaan – kebiasaan dan sikap – sikap demekian dimulai sejak masa kanak – kanak di dalam kehidupan keluaraga atau kelompok – kelompok kekerabatan.
b.      Akomodasi
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu kesimbangan dalam interaksi antara orang – perorangan atau kelompok - kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma – norma sosial dan nilai – nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Bentuk – bentuk akomodasi, coercion, compromise, arbitration, mediation, conciliation, toleration, stalemate, dan adjudication.
 BAB III
KELOMPOK – KELOMPOK SOSIAL DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, akan tetapi dia adalah mahluk yang mempunyai naluri untuk hidup dengan manusia – manusia lain, naluri ini dinamakan gregariousness. Kelompok social atau “ social group ” adalah himpunan atau kesatuan – kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyngkut hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong.
1.      Beberapa persyaratan kelompok social adalah :
·         Setiap kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
·         Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
·         Terdapat suatu factor yang dimiliki bersama oleh anggota – anggota kelompok itu, sehingg hubungan antar mereka bertambah erat. Factor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dll.
·         Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola prilaku.

Tipe – tipe kelompok social dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut atau dasar pelbagai kriteria / ukuran :
·         Besar kecilnya jumlah anggota
·         Derajat interaksi social
·         Kepentingan dan wilayah
·         Berlangsung suatu kepentingan
·         Derajat organisasi
·         Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan social dan tujuan.

Kelompok primer ( primary group ) atau face to face merupakan kelompok sosial yag paling sederhana, dimana anggotanya – anggotanya saling mengenal, dimana ada kerja sama yang erat. Kelompok sekunder ( secondary group ) adalah kelompok – kelompok yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng.
 Formal Group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan segaja diciptakan oleh anggotanya – anggotanya untuk mengatur huungan antar sesamanya.
Informal Group tidak mempunyai stuktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompok – kelompok tersebut biasanya erbenuk karena pertemuan – pertemuan yang berulang kali, yang menjadi dasar bertemunya kepentingan – kepentingan dan pengalaman – pengalaman yang sama.
Membership Group merupakan suatu kelompok diman setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut.
Reference Group ialah kelompok – kelompok sosial yang menjadi acuan bagi sesorang ( bukan anggota kelompok tersebut ) untuk membentuk pribadi dan prilakunya.
 Kelompok – kelompok sosial yang tidak teratur :
a.       Kerumunan ( crowd ) adalah individu – individu yang berkumpul secara kebetulan disuatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan.
b.      Bentuk – bentuk kerumunan :
1.      Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial :
·         Khalayak penonton atau pendengar yang formal ( formal audiences ).
·         Kelompok ekspresif yang telah direncanakan ( planned expressive group ).
2.      Kerumunan yang bersifat sementara (  Casual crowds )
·         Kumpulan yang kurang menyenangkan
·         Kerumunan orang – orang yag sedang dalam keadaan panic
·         Kerumunan penonton
3.      Kerumunan yang berlawanan dengan norma – norma hukum.
·         Kerumunan yang bertindak emosional
·         Kerumunan yang bersifat immoral
 Istilah masyarakat setempat ( Community ) menujuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal disuatu wilayah dalam arti geografis dengan batas – batas tertentu, dimana factor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar di antara anggota, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk diluar batas wilayahnya. Dalam mengaplikasikan masyarakat – masyarakat setempat, dapat dipergunakan empat kriteria yang saling berpaut :
1.      Jumlah penduduk
2.      Luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman
3.      Fungsi – fungsi khusus dari masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat.
Urbanisasi adalah suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan.
Sebab – sebab urbanisasi dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu :
·        Factor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan tempat / daerah kediamanya.
·         Factor kota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap di kota – kota.
 Small Group adalah suatu kelompok yang secara teoritis terdiri paling sdikit dari dua orang, dimana orang – orang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan – tujuan tertentu dan yang menganggap hubungan itu sediri, penting baginya.
 Dinamika kelompok – kelompok sosial perlu dipelajari, untuk mengetahui realitas kehidupan kelompok – kelompok sosial itu sendiri.


























BAB IV
KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
            Masalah kebudayaan juga diperhatikan dalam sosiologi, karena kebudayaan dan masyarakat manusia merupakan dwitunggal yang tidak terpisahkan. Istilah kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah , merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi tau akal. Culture berasal dari kata latin colore yang berarti mengalah atau mengerjakan.
            Kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cita – cita masyarakat. Banyak pendapat para sarjana tentang unsure – unsure kebudayaan. Oleh C Kluckhohn dianalisis dengan menunjuk pada inti pendapat – pendapat sarjana, tetsebut, yang menyimpulkan adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural – universal, yaitu :
a.       Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
b.      Mata pencaharian hidup dan sistem – sistem ekonomi
c.       Sistem kemasyarakatan
d.      Bahasa
e.       Kesenian
f.       Sistem pegetahuan
g.      Religi
Kebudayaan berguna bagi manusia yaitu untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah dari segenap perasaan manusia. Setiap kebudayaan mempunyai sifat – sifat hakikat sebagai berikut :
a.       Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari prilaku manusia
b.      Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang brsangkutan
c.       Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya
d.      Kebudayaan mencakup aturan – aturan yang berisikan kewajiban, tindakan – tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan – tindakan yang dilarang dan tindakan – tindakan yang diijinkan.






BAB V
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
( LEMBAGA SOSIAL )
Lembaga kemasyarakatan adalah himpunan norma – norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Wujud yang konkrit lembaga kemasyarakatan ialah asosiasi .
Lembaga kemasyarakatan pada dasarnya memunyai beberapa fungsi . yaitu :
a.       Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat, bagaimana mereka harus brtingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah – masalah dalam masyarakat, yang terutama menyangkut kebutuhan pokoknya.
b.      Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan
c.       Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial, artinya sistem pengawasan dari masyarakat terhadap tingkah laku anggota  anggotanya.
Menurut Gillin, lembaga kemasyarakatan mempunyai beberapa ciri umum, yaitu :
a.       Suatu lembaga kemasyrakatan adalah suatu organisasi pola – pola pemikiran dan pola – pola prilaku yang terwujud melalui aktifitas – aktifitas kemasyarakatan dan hasil – hasilnya
b.      Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri semua lembaga kemasyarakatan
c.       Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu
d.      Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat – alat perlengkapan yang di pergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan
e.       Lambang biasanya juga merupakan ciri khas lembaga kemasyarakatan
f.       Suatu lembaga kemasyarakatan mmpunyai suatu tradisi terulis atau tak tertulis










BAB VI
LAPISAN MASYARAKAT
( STRATIFIKASI SOSIAL )
            Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Perbedaan  atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian dari sistem sosial stiap masyarakat. Untuk meneliti terjadinya prose lapisan dalam masyarakat, pokok – pokoknya adalah :
ü    Sistem lapisan berpokok kepada sistem pertentangan dalam masyarakat. Sistem demekian hanya mempunyai arti khusus bagi masyarakat – masyarakat tertentu yang menjadi obyek penelitian
ü Sistem lapisan dapat dianalisis dalam arti – arti sebagai berikut :
a.       Distribusi hak – hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, dan keselamatan
b.      Sistem pertanggaan yang diciptakan oleh para warga masyarakat
c.       Kriteria sistem pertanggaan dapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan
d.      Lambang – lambing kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara brpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi
Sifat sistem lapisan masyarakat dapat tertutup dan dapat pula terbuka. Yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yag lain, baik gerak pindahnya itu ke atas atau ke bawah. Sebaliknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan yang bawahnya.









BAB VII
KEKUASAAN, WEWENANG DAN KEPEMIMPINAN
            Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta – juta manusia. Karena itu, soal kekuasaan amat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan khususnya. Sesuai dengan sifatnya sebagai ilmu pengetahuan, sosologi memandang kekuasaan sebagai suatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Akan tetai sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsure yang sangat penting dalam kehidupan suatu masyarakat.
            Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat, baik yang masih bersahaja, maupun yang sudah besar dan rumit susunannya. Adanya kekuasaan tergantung dari hubungan antara yang berkuasa dan ya g di kuasai, atau dengan perkataan lain, anrata pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dan pihak lan yang menerima pengaruh itu, dengan rela atau karena terpaksa. Apabila kekuasaan dijelmakan pada diri seseorang, maka seseorang itu di namakan pemimpin, dan mereka yang menerima pengaruhnya adalah pengikut – pengikutnya. Bedanya antara kekuasaan dan wewenag ialah bahwa setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dapat dinamakan kekuasaa, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang pada seeseorang atau sekolompok orang, yang mendapat pegakuan masyarakat.
Unsur – unsur pokok kekuasaan yakni :
a.       Rasa takut
b.      Rasa cinta
c.       Kepercayaan
d.      Pemujaan
Menurut Robert M. Maclver, dalam masyarakat terdapat tiga tipe umum piramida kekuasaan yang merupakan pola umum, yakni :
a.       Tipe kasta
b.      Tipe oligarkis
c.       Tipe demoktratis
Kepemimpinan adalah kemampuan sesorang untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang lain tersenbut. Kadangkala dibedakan antar kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses sosial. Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak – hak dan kwajiban – kewajiban yang dapat dimiiki oleh seseorang atau sesuatu badan, yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat.
Menurut mitologi Indonesia, kepemimpinan yang baik tersimpul dalam Asia Brata yang pada pokoknya menggambarkan sifat – sifat dan kepribadian dari delapan Dewa.
Secara sosiologis, seseorang pemimpin harus mempunyai sandaran kemasyarakatan atau sosial basis yang mencakup susunan masyarakat serta cultural focus masyarakat yang bersangkutan.
Tugas kepemimpinan memberikan kerangka pokok kekuasaan dan wewenag, mengawasi dn menyalurkan prilaku kelompok. Cara – caranya adalah : otoriter, demoktratis, dan liberal.





























BAB VIII
PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
Setiap manusia selama hidupnya, pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagoi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan – perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan – perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan – perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yang berjalan cepat.
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga – lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai – nilai, sikap – sikap dan pola – pola prilaku di antara kelompok – kelompok dalam masyarakat.
Bentuk – bentuk perubahan antara lain :
1.      Perubahan lambat dan perubahan cepat
2.      Perubahan kecil dan perubahan besar
3.      Perubahan yang dikehendaki atau perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki atau perubahan yang tidak direncanakan.
Faktor – faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan adalah :
a.       Sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri :
        i.            Bertambah atau berkurangnya penduduk
      ii.            Penemuan – penemuan baru
    iii.            Pertentangan – pertentangan dalam masyarakat
    iv.            Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri
b.      Sebab – sebab yang berasal dari luar masyarakat :
        i.            Sebab – sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada disekitar manusia
      ii.            Peperangan dengan Negara lain
    iii.            Pengaruh kebudayaan masyarakat lain








BAB IX
MASALAH SOSIAL DAN MANFAAT SOSIOLOGI
            Tidak semuanya di dalam kehidupan masyaraat berlangsung secara normal, artinya sebagaimana dikehendaki oleh masyarakat yag bersangkutan. Gejala – gejala abnormal atau gejala – gejala patologis hal itu disebabkan karena unsur – unsur masyarakat tertentu tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya, sehingga menyebabkan kekecewaan – kekecewaan dan bahkan penderitaan bagi para warga masyarakat.
            Masalah sosial adalah ketidaksesuaian antara unsur – unsur dalam kebudayaan atau masyarakat yang membahayakannya hidupnya kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan –keinginan pokok warga kelompok sosial, sehingga menyeabkan rusaknya ikatan sosial.
            Beberapa masalah sosial antara lain :
a.       Kemiskinan, sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan ukuran kehidupan kelompoknya, dan tidak juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
b.      Kejahatan
c.       Disorganisasi keluarga, yaitu perpecahan dalam keluarga sebagai unit, oleh karena anggota-anggota keluarga tersebut gagal memenuhi kewajiban – kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya.
d.      Masalah generasi muda
e.       Peperangan
f.       Pelanggaran terhadap norma – norma masyarakat
g.      Masalah kependudukan
h.      Masalah lingkungan
i.        Birokrasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar